Senin, 13 Juni 2016

PENYIMPANGAN ESOTERIC DALAM ISLAM

Segala puji bagi Allah, yang Maha Pengasih, yang paling Penyayang, Tuhan seluruh alam, Raja Hari Penghakiman, yang telah mengumpulkan semua pengetahuan dalam Dzat-Nya dan Yang Mencipta semua pengetahuan untuk selamanya. Semoga kedamaian dan rahmat atas Nabi yang dikasihi-Nya, Muhammad, yang tidak diajari oleh manusia tetapi oleh-Nya. Dia adalah yang terakhir dan Nabi paling dihormati, yang terakhir dalam rantai kenabian yang dibawa ke dunia ini dan yang telah menuntun kita ke jalan yang benar. Semoga berlimpah kedamaian dan rahmat atas Keluarganya dan para sahabat nya, yang dipilih di antara yang baik dan murah hati.

Tentu saja yang paling berharga, permata paling bernilai, keuntungan yang paling besar dari perdagangan manusia adalah pengetahuan. Hanya dengan kebijaksanaan kita mencapai Tauhid, sumber dari semua pengetahuan lainnya. Hanya dengan hikmat bisa kita mengerti dan mengikuti-Nya dan juga Rasulullah, sallallahu 'alaihi wa sallam. Orang-orang dengan pengetahuan yang terbaik dari para hamba yang telah menyerahkan diri kepada Allah dengan imbalan kebijaksanaan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Allah membimbing siapapun yang dikehendaki-Nya kepada Cahaya-Nya" (24, 35). Pengetahuan tentang hal ini adalah keseimbangan antara harapan dan ketakutan, dalam keinginan kita untuk dipilih. Dan Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Hanya hamba-hamba yang berpengetahuan yang takut kepada Allah" (35, 28). Pengetahuan ini adalah mengetahui bahwa taqwa adalah pintu pengetahuan.

Dalam menghadirkan buku ini saya menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya Deen yang diridhai di sisi Allah. Setiap orang harus tahu bahwa Islam adalah kebenaran yang tiada duanya yang menyiratkan bahwa Islam berada di atas agama dan kepercayaan spiritual lainnya. Semua kepercayaan lain mengandung penyimpangan dari ajaran asli para Nabi yang diutus sebelum Rasul terakhir, sallallahu ‘alayhi wa sallam, atau sekedar penemuan baru dari guru palsu. Rasul terakhir, sallallahu ‘alayhi wa sallam, membawa bentuk akhir Deen Allah dan Deen ini adalah Islam. Semua bentuk terdahulu Deen Allah, baik itu yang masih asli atau yang sudah menyimpang, dibatalkan oleh Islam. Muslim tidak butuh untuk kembali kepada kenabian masa lalu maupun naskah agamanya karena semua pengetahuan berguna ada di dalam Qur’an. Qur’an, karenanya, membatalkan semua kitab-kitab kenabian yang sebelumnya. Islam adalah benar dalam keseluruhannya, bukan hanya bagian tertentunya saja atau dalam beberapa jenis esensi yang diduga atau dalam bentuk terdahulu sebelum lengkap penyampaiannya pada akhir hidup Rasulullah, sallallahu ‘alayhi wa sallam. Muslim harus memeluk Islam secara utuh tanpa terkecuali, terkurangi atau tertunda.

Setiap orang wajib mematuhi Allah, subhanahu wa ta‘ala. Alhamdulillah, Muslim mampu memahami hal ini. Dengan kepatuhan (Taqwa) Muslim menyadari bahwa yang halal adalah mungkin. Hanya orang munafiq yang berkata bahwa yang Halal tidak mungkin. Dengan kepatuhan, keraguan yang dibuat-buat akan musnah dan cahaya la hawla wa la quwwata illa billah membuat seorang Muslim lebih jauh memahami apa tugasnya didunia dan bagaimana harus bertindak.

Tema yang akan selalu berulang dalam buku ini adalah ayat Qur'an “Satu-satunya Deen di sisi Allah adalah Islam.” Kami benar-benar sadar akan makna ini sehingga semua agama tidak diterima bagi Allah dan dengan demikian kami menganggap agama lain sebagai palsu. Bagi kami menegaskan kebenaran Islam adalah perenungan mendalam dari kepercayaan sejati kami. Karena kebenaran hanyalah satu. Bagi kami mustahil memberikan kesahihan kepada agama lain yang menegaskan ‘kebenaran lain’ (yang akan kita sebut ‘selain-Allah’). Selama berabad-abad penganut kristen telah mengklaim ambisi universalnya. Kami sungguh memahami hal itu. Untuk memberikan nilai identik kepada semua agama adalan nihilisme sejati: tidak ada yang lain. Kalimat ‘Semua agama sama benar’ adalah identik dengan kalimat ‘Semua agama sama salah’. Kami tidak dapat menerima itu. Kami bukanlah penganut paham nihilisme. Penganut kristen dengan reformasinya melewati proses bertahap transformasi yang kita definisikan dalam buku ini sebagai esoterisasi, yang mencapai nihilisme murni dengan Dewan Ekumenikal (ekumenisme) Vatikan Kedua. Kristen rupanya cemburu kepada agungnya pribadi seorang Muslim dan hanya melihatnya sebagai arogansi tanpa mengerti apa sebenarnya kepribadian Muslim itu. Tetapi dari ajaran nihilisme nya ‘hak asasi manusia’ tidak ada kemungkinan untuk memahami apa itu Islam sama sekali. Doktrin universal Hak Asasi Manusia, yang juga mengklaim kesahihan universal, dibuat untuk melawan agama. Ungkapan seperti hak asasi kristen adalah sama dengan ungkapan hak asasi Muslim. Ungkapan-ungkapan itu adalah produk kebingungan dan kesalahpahaman. Ungkapan-ungkapan itu adalah usaha untuk mereformasi agama di bawah keortodokan hak asasi manusia. Hak asasi manusia dipandang sebagai ortodok sementara agama dipandang sebagai hal yang kebetulan. Memberikan kepada Islam pandangan seperti itu berarti mengevaluasi ulang hak asasi manusia. Bagi penganut nihilisme kristen untuk memahami posisi kami, dia harus menjalankan perubahan.

Bagi orang-orang yang menganut keyakinan nihilisme semacam itu sulit bagi mereka memahami Muslim seperti kita, yaitu orang-orang yang menyatakan Islam satu-satunya Deen yang diterima di sisi Allah. Mereka tidak dapat masuk kepada pengalaman kita dengan nihilisme yang mereka anut. Ajaran relativisme yang mereka anut mencegah mereka dari melakukan yang demikian. Mereka hanya dapat melihat kita di permukaan, tanpa mengerti bahwa orang-orang yang menolak tunduk kepada Allah akan hancur, sebagaimana yang dimaksud oleh Islam. Mereka hanya dapat melihat dari halangan, tetapi mereka tidak mampu mengetahui apa makna bagi seorang Mukmin untuk menegaskan Kebenaran (sebagai Satu-satunya). Tetapi poin kami adalah bahwa keyakinan mereka yang sudah 'disetel' benar-benar sudah tidak mampu memahami hal itu lagi. Keyakinan yang mereka punya itu bukanlah beriman kepada Allah. Bahkan berhubungan dekatpun tidak. Keyakinan yang tidak membuka diri terhadap pengalaman hidup yang tidak terbatas dan ketundukan total kepada Allah, bukanlah Iman tapi hanya sekedar mencari kesenangan hidup. Keyakinannya kaum nihilis hanya sekedar menyetel pikirannya untuk melanggengkan warisan kapitalisme yang didukung oleh ajaran nihilismenya hak asasi manusia. Dari pandangan kaum penganut nihilisme, Islam kita dianggap sebagai kesombongan. Namun perbedaan antara Muslim dan non-Muslim adalah Rahmat dari Allah di dunia.

Dengan Menyangkal bahwa manusia harus Tunduk kepada Allah', sama saja dengan menurunkan derajat manusia menjadi sekedar benda dan nilai manfaat dari benda itu (utilitarian). Paham ini mulai mendominasi. Entah itu manusia dipandang sebagai pengukur dan penentu keadilan di dunia atau dia melihat dirinya sebagai sesuatu yang diukur dan diadili (ini adalah ajaran Ihsan). Pandangan bahwa manusia adalah sumber pengukur, adalah humanisme yang menghancurkan dunia saat ini.

Kepercayaan kristen kepada satu tuhan dengan tiga kepribadian, ibu dari tuhan dan trans-substansi dari biskuit suci, terlepas dari apakah pernyataan-pernyataan itu benar atau salah, tidak menawarkan akses kepada ketundukan kepada Allah yang dimaksud oleh Muslim (Islam). Sebaliknya, kalimat-kalimat itu mewakili pengganti, sebuah hiburan. Seseorang yang berkeyakinan kristen menyibukkan diri sendiri, terkadang menunjukkan minat pada keyakinannya, tetapi dia tidak dapat tunduk kepada Allah. Kristen sedemikian teresoterisasinya sehingga dia dapat dengan mudah masuk kepada ajaran hak asasi manusia tanpa kehilangan fokus atau bertentangan dengan keyakinan kristennya dan juga nilai-nilainya. Walaupun tidak semua penganut kristen menyetujui ajaran hak asasi manusia dan humanisme demokratis sebagai kebenaran di atas agama, faktanya adalah mereka tidak dapat melakukan apapun sehubungan dengan nihilisme ajarannya. Ungkapan kristen Tuhan Yang Maha Kuasa jika dibandingkan kepada dua ungkapan Islam La ilaha illa’llah dan la hawla wa la quwwata illa billah, tidak menawarkan jaminan untuk mencegah simbolisme atau spekulasi teologis, sebaliknya kristen terbuka untuk itu. Sedangkan Islam menolak setiap fondasi teologis.

Islam bukanlah sebuah teologi. Karenanya Islam tidak dapat disebut monoteistik, atau politeistik atau ateistik. Orang Kristen tidak dapat memahami Islam dengan cara ini. Islam menyeru kepada ajaran non-fundamentalis, rasa kebebasan. Jika orang kristen ingin mengetahui apa yang kita maksud dengan testimoni ‘sombong’ Kebenaran mutlak, dia harus melucuti terlebih dahulu dirinya dari paham nihilisme. Dia harus melompati penghalang dan tidak hanya bertanya secara intelektual. Diperlukan sesuatu yang lebih mendalam. Dia harus merasakan Islam. Ini bermakna secara eksistensial, ketimbang secara mental, untuk mengalami ketundukan kepada Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya (Ahad) dan Pemelihara Dunia (Samad). Orang yang mampu merasakan kehadiran Allah melalui shalat dan dzikir adalah orang yang berbeda. Orang ini dapat berbuat di dunia. Bagi orang yang beruntung ini Islam adalah mutlak benar. Izinkanlah kami lebih jelas, pengalaman ini adalah mustahil bagi orang yang menganut paham nihilisme. Dia telah dikondisikan untuk tidak bebas lagi, dan karenanya, mematuhi Allah akan melepaskannya dari ketidakbebasan itu, karena tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kaum nihilis hanya dapat berdiam di dalam bangunan kenyamanan. Orang Kristen, terutama setelah Nietzsche, hanya memiliki satu pilihan yaitu memeluk Islam.

Bagaimana dengan agama lain? Hindu, budha, zoroaster, dll, semuanya adalah musyrikun tanpa Kitab. Maksudnya keyakinan mereka adalah fiksi dan mereka telah kehilangan hubungan dengan Nabi asli mereka. Ini bukanlah persoalan yang dapat dinegosiasikan. Dan adapun untuk yahudi, walaupun mereka adalah ahli Kitab, sebagian besar mereka adalah agnostik.

Islam adalah satu-satunya agama yang sah, agama lain tidak dapat diterima di sisi Allah. Untuk alasan ini, Muslim memandang kepada agama lain dengan ketegasan dan belas kasihan. Hukum Islam mengizinkan non-Muslim untuk hidup di bawah perlindungan Dar al-Islam dengan status dzimmy. Hukum Dzimmy adalah hal yang sangat penting bagi Deen Islam. Di bawah umbul-umbul humanistik dan esoterik, Hukum Dzimmy dihapuskan, dan saat itu menandakan titik balik dalam kehidupan Kekhalifahan Ustmani.

Minggu, 12 Juni 2016

Biang Keroknya adalah Kapitalisme

Dunia memiliki biang kerok masalah yang disebut Kapitalisme. Dunia tidak bisa menyingkirkan itu. Telah dicoba sekali tetapi revolusinya dibajak oleh marxisme, namun gagal dan berasimilasi. Islam adalah satu-satunya kekuatan yang dapat dan akan menamatkan riwayat kapitalisme. Kami tidak akan gagal karena kami yakin pada Allah sementara Proudhon tidak . Freemasonri bukanlah lengan tersembunyi kapitalisme, tetapi berperan melayani kepentingan kapitalisme. Pertama adalah filosofi toleransi, dan kemudian esoterisasi agama, menggulingkan otoritas dibalik larangan riba. Freemasonri memasuki dunia Muslim, tetapi kapitalisme telah masuk terlebih dahulu dengan efek yang lebih merusak. Muslim tidak tahu bagaimana bereaksi menghadapinya. Perbankan memiliki kekuatan besar dan tidak ada di masa itu yang mampu menanganinya. Hasilnya adalah akhir Kekhalifahan. Selama seratus tahun kita hidup tanpa Kekhalifahan. Selama masa itu reformasi telah diperkenalkan ke dalam Islam pada dua front yang dimaksudkan untuk melumpuhkan Islam, satu-satunya kekuatan yang bisa mencegah kapitalisme dari mencapai tujuan akhir, negara dunia.

- Satu front adalah modernisme eksoteris dan yang
- Kedua adalah esoteris tradisionalisme atau perenialisme.

Keduanya dipengaruhi oleh freemasonry dan dihasut oleh Freemason. Saat ini kedua front itu telah bergabung jadi satu. Penyimpangan esoterik ini sedang mempersiapkan Islam untuk memasuki fase akhir kapitalisme. Kami akan mencegah hal itu terjadi. Buku ini merupakan langkah awal untuk memberantas wabah berumur seratus tahun ini. Insya’Allah. Saya bertawakkal kepada Allah. Buku ini akan mengkaji apa yang kita sebut penyimpangan esoteris, upaya sia-sia untuk merusak Islam dengan seikat ide-ide palsu dan doktrin. Tujuan kami adalah untuk menetralisir racun supaya terbuka pikiran dan dapat menghasilkan perangkat yang bisa digunakan untuk meninggalkan kapitalisme. Kami tidak bermaksud untuk meledakkan bank, kami hanya ingin membuat bank tidak dibutuhkan. Ini adalah prasyarat untuk perang melawan kapitalisme. Allah telah mengharamkan riba dan karenanya menyatakan perang kepada para kapitalis. Dunia harus dan akan segera tahu mulai dari sekarang bahwa Islam adalah musuh mematikan bagi kapitalisme. Untuk waktu yang lama di Barat, ekonomi telah didewa-dewakan. Broker dan bankir adalah ulama tingginya. Ekonomi telah merambah semua aspek kemasyarakatan melebihi politik, merubah negara nasional menjadi sekedar industri jasa; privatisasi ilmu dan informasi , dengan konsekuensi mengkhawatirkan karena mengetahui bahwa segala sesuatu dari pembelajaran dunia untuk obat-obatan yang kita semua berbagi adalah milik perusahaan dan dipatenkan; dan agama telah secara universal didefinisi ulang untuk menerima kapitalisme dan riba. Hanya Islam yang dapat datang untuk menyelamatkan.

Agama lain? Apa itu agama lain? Toleransi telah menamatkan mereka sejak lama. Agama lain itu telah disaring, dikurangi, dihomogenisasi sekalipun tidak diakui oleh pemeluknya. Yang tertinggal hanyalah tuhan pribadi dan perasaan pribadi. Kami lebih suka memiliki kerajaan Kristen dan Kekhalifahan Muslim, daripada Kekaisaran Soros Dunia. Kejahatan itu adalah sinkretisme. Muslim hanya dapat berkembang ketika membedakan diri dari kufur. Yahudi dan Kristen telah berkembang di bawah Islam atau melawannya. Dan Atheis? Mereka adalah orang kristen murtad di jalan menuju Islam. ‘Tuhan’ yang tidak mereka percayai, kita pun juga sama tidak percayai. Tetapi mereka baru berkata setengah: ‘la ilaha’, yang di dalamnya absurd, kecuali jika anda menambahkan ‘illa Allah’.

Kami ingin mengatakan bahwa: sepak terjang kapitalisme yang lancar dalam lima abad terakhir membutuhkan penghapusan hukum yang menentang riba. Itu berarti penghapusan kekuatan normatif agama. Ini seperti halnya mengatakan kepada Muslim: ‘Hukum Allah tidak sah atau tidak universal’. Implikasi moral bagi penetrasi kapitalisme adalah: ‘riba, walaupun diharamkan oleh Allah, harus diterima’. Maksudnya adalah mengatakan bahwa Muslim harus menerima kapitalisme. Ada tiga jawaban yang mungkin bagi hal ini: menerima kapitalisme, menolak kapitalisme, tidak menerima sekaligus tidak menolak. Yang pertama hanyalah sekedar penerimaan pasif hidup di bawah motto ‘agama tidak ada hubungannya dengan ekonomi’; tapi yang terakhir adalah yang paling berbahaya karena menyamarkan Islam sebagai reformasi. Mereka menemukan ‘Ekonomi Syariah’. Reformasi ini dimulai oleh Al-Afghani, ‘Abduh dan Reda. Ini menyebabkan fundamentalisme Islam dan modernisme Islam. Lambang mereka adalah ‘bank Islam/Syariah’, ‘konstitusi Islam’ dan ‘negara Islam’. Islam pasca fundamentalis bermakna penolakan kapitalisme berikut segala institusi- institusinya. Esoterisasi Islam memiliki rencana yang bersifat metafisika: monoteisme menggantikan Tauhid; dan rencana sosial: Prinsip Islam menggantikan Hukum Islam. esoterisisme terjadi melewati beberapa tahap:

Tahap pertama esoterisisme terdiri dari penghapusan masa lalu: penghilangan madzhab fiqih dan Tasawwuf. Secara politik juga mewakili perlawanan terhadap Kekhalifahan Ustmani, khususnya Sultan Abdulhamid II Yang Agung.

Tahap kedua esoterisisme adalah fase utilitarian di mana Hukum Islam menjadi subjek untuk dievaluasi secara menyeluruh dalam istilah sosial, politik atau pragmatisme ekonomi. Tasawwuf sejati dibuang dan tasawwuf modern muncul sebagai bentuk esoteris Islam. Madzhab digantikan dengan prinsip-prinsip Islam. Prinsip Islam memungkinkan asimilasi Islam kepada masyarakat kafir: bank Islam, negara Islam, bursa saham Islam, konstitusi Islam, dan lain-lain. Sambil menegaskan bahwa Allah adalah yang paling berkuasa, mereka mengakui bahwa kafir Barat (yang mereka pandang sebagai iblis) kenyataannya lebih praktis, dan mereka bersemangat meniru kekufuran yang mereka bilang sangat mereka benci (misal, Republik Islam Iran).

Tahap akhir adalah asimilasi. Perenialisme adalah metafisika baru mereka. Persaudaraan umat manusia dan universalitas agama diterima secara luas sebagai doktrin Islam. Tasawwuf diesoterisasi dan diterima sedangkan Syariah secara esoterik diperlembut dan dibuat siap untuk menjadi hak asasi manusia ala Islam. Hal itu mengikuti penerimaan tersirat Deklarasi Hak Asasi Manusia, dan Negara Dunia sebagai mesiah kafir baru. Secara progresif, segala sesuatu yang membedakan agama-agama didefinisikan sebagai domain eksoterik (kecelakaan eksternal dan periferal) sementara domain esoterik (internal, esensial dan central) menjadi hal yang membawa mereka bersama.

Kapitalisme menghendaki keseragaman dan kebebasan bagi riba. Esoterisasi menyediakan keduanya. Merangkul semua agama adalah teknik menipu mereka. Riba secara esoterik ditafsirkan ulang. Pertama dibatasi artinya hanya sebatas ‘bunga’ kemudian menjadi ungkapan moral ‘iblis perdagangan’. Riba tidak lagi menjadi praktek eksistensial, tetapi sebagai prinsip moral. Dari persoalan Riba kepada etika dan moralitas, di mana prinsip-prinsip dan hak-hak mendominasi kenyataan.

Manfaat perbuatan ibadah murni telah direndahkan dan diperlemah berdasarkan pemahaman praktis atas manfaat. Kelakuan ini menyerupai kelakuan agnostik . Dalam konteks ini penting untuk dicatat bahwa umat semua agama saat ini mengikuti kurang lebih cara hidup yang sama. Kita semua memiliki bank, uang kertas, dipajaki dengan aneka rupa pajak tak bertepi, dengan kartu tanda penduduk dan sistem pendaftaran. Muslim, kristen dan orang-orang agnostik secara esensial harus hidup dengan cara yang sama. Perbedaannya diredusir sebatas moral pribadi dan perilaku seksual, yang menciptakan dialektika puritan/liberal, dan hari apa mereka pergi ke kuil. Moralitas direndahkan menjadi ‘saya melakukan apa yang saya bisa’. Kami mengusulkan perubahan dalam mentalitas yang dihasilkan oleh tuntutan utilitarian ‘apa yang dapat kita lakukan?’ Kita dapat bertindak jika kita hanya mematuhi Allah.

Perbuatan manusia tidak dapat dinilai hanya dari manfaatnya. Hal itu bermakna kemenangan teknik atas ketaatan kepada Allah. Hal itu bermakna bahwa perintah sistem perbankan ditempatkan di atas kepatuhan kepada Allah. Ini adalah kalimat yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang: “Allah adalah Yang Maha Kuasa, tetapi sistemnya para bankir lebih praktis. Kita hendaknya mengikuti sunnah para bankir.” Ini adalah ironi dualisme kaum yang menyimpang itu. Mereka menyebut bank sebagai ‘syaitan’, namun mereka bersegera mengislamkan bank (bank Syariah ). Hal itu menunjukkan ketidakberdayaan visi mereka dan menjadi jelas bahwa mereka menyerah. Bank adalah institusi yang diharamkan oleh Allah dan menerima bank berarti mencoba untuk memasukkan bank kedalam ibadah artinya beribadah kepada selain Allah. Ini yang lazimnya sekarang disebut sebagai praktis. Mereka berkata “kami praktis”, tetapi mereka hanya membohongi diri sendiri. Cara membela diri bahwa mereka praktis adalah bukti ketidakberdayaan mereka yang menghasilkan ketidakmampuan bertindak sesuai cara Islam. Salah satu ide yang paling umum dalam pemikiran esoterik adalah bahwa ‘kita tidak dapat mematuhi Allah’ karena ada kekuatan lain yang tidak mengizinkan kita untuk bertindak. Kekuatan yang dimaksudkan ini adalah para syaitan. Sehingga para syaitan — mereka berkata — tidak mengizinkan mereka untuk bertindak. Para syaitan adalah semua musuh politik mereka. Tetapi orang-orang ini tidak menyadari bahwa satu-satunya hambatan yang mereka punya adalah diri mereka sendiri. Buktinya adalah bahwa ketika akhirnya diberi kesempatan untuk bertindak mereka meniru syaitan yang mereka benci: Bank Syariah. Mereka berfikir bahwa apa yang halal tidak mungkin, dan pemahaman ini membutakan mereka. Perilaku Muslim adalah mematuhi Allah, dan kepatuhan ada di atas tujuan apapun (manfaat atau kegunaan). Di dalam kepatuhan ada tujuan. Mematuhi Allah mengesampingkan setiap tujuan berdasarkan manfaat (utilitarian). Hal ini bebas dari setiap gangguan disebabkan oleh diri sendiri. Bertindak di jalan kepatuhan tidak dibatasi oleh batasan pribadi. Bertindak di jalan kepatuhan adalah menginginkan apa yang Allah inginkan. Seseorang yang pasrah kepada Allah dapat menghilangkan sistem perbankan seketika.

Sistem perbankan tidak memiliki kekuatan di mata kaum Muslimin. Sistem perbankan memiliki kekuatan hanya di mata kaum utilitarian esoterik/eksoterik. Ini adalah kegilaan.

Kemenangan kaum Muslim adalah dengan mematuhi Allah. Patuh, dan hanya patuh, memberi mereka rasa akan nikmatnya ibadah dan Muslim dapat menghargai hadiyah itu. Tanpa kepatuhan, ibadah menjadi ritual dan budaya dan Masjid diperlakukan sebagai kuil Jum'at karena terputus dari aktifitas sosial dan ekonomi.

Pragmatisme adalah khayalan diri yang dipaksakan dan adanya pada inti etika humanis. Ini adalah produk dari metafisika Kantian , metafisika logika praktis yang tersusun hanya semata dari akal belaka, dan teori yang menentukan rute praksis . Ini adalah metafisika prinsip objektif dan subjektif. Terlepas dan lolos dari ideologi yang menjebak ini adalah salah satu tujuan Islam. Hasilnya adalah Muslim dapat patuh dan dapat berdagang dengan benar, dapat berjihad fisabilillah, dan dengan demikian dia dapat beribadah. Dan ini adalah apa yang kita inginkan. Kaum kuffar telah melarang kepatuhan kepada Allah, menghapuskan perdagangan, menghilangkan jihad fisabilillah, dan merendahkan ibadah menjadi sekedar 'manfaat' belaka. Tetapi Allah Yang Maha Menentukan apa itu ibadah yang sejati. Allah berfirman dalam Qur’an: “Engkau tidak melempar. Ketika engkau melempar, itu Allah yang melempar.” (8, 17). Allah juga berfirman: “Perangilah mereka! Allah akan menghukum mereka melalui tanganmu.” (9, 14) Satu-satunya tujuan kita dalam hidup adalah beribadah kepada Allah. Kewajiban kita adalah mematuhi-Nya dan Allah dengan jelas berfirman dalam Qur’an: Wahai Nabi! Tunjukkanlah takut kepada Allah dan jangan patuhi kafirun dan munafik. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb mu. Allah Maha Waspada atas segala sesuatu yang kau lakukan. Dan bertawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung. (Qur’an 33, 1-3)

Humanisme dan perangkat hukumnya, hak asasi manusia, sambil berpura-pura menolong agama , kenyataannya menghapuskan semua agama. Tetapi ini tidak berarti tidak ada agama sama sekali. Agama barunya adalah sistem perbankan. Bank memerintah berdasarkan mata uang buatan. Sistem ekonomi dunia di mana setiap orang wajib menggunakan US dollar adalah jelas sebuah tirani yang memenjarakan semua bangsa lain di dunia, dan terutama umat Muslim. Semua kelompok politik Muslim selama seratus tahun terakhir telah mendukung sistem uang kertas, tak peduli apapun yang mereka katakan, telah mendukung sistem tirani yang dengan sistem itu kuffar memerintah dunia. Pemahaman Islam mereka menyimpang karena mereka tidak dapat memahami apa yang ditolak oleh Syariah, dan alasan dari penolakan itu adalah karena mereka sudah teracuni oleh pragmatisme utilitarian yang merupakan hasil dari metafisika esoterik. Buku ini adalah cerita fundamentalisme berumur seratus tahun. Kenapa fundamentalis tidak berhasil dalam seratus tahun terakhir? Kenapa mereka kalah dalam setiap aspek politik? Karena mereka tunduk kepada agama modern, yaitu agama riba. Pendirian bank Syariah menunjukkan iman mereka yang rusak. Kelompok ini adalah kelompok yang sama dengan pseudo-Sufic yang mendukung riba karena mereka pikir bahwa riba tidak mempengaruhi ‘transendensi’ mereka.

Selembar selimut moral baru telah menggantikan kekuatan normatif agama. Hak asasi manusia, toleransi dan demokrasi adalah spanduk moral yang digunakan untuk mengatur dunia. Mereka menghadirkan wacana palsu. Di latar belakang, tak seorangpun mampu untuk mempertanyakan moral alamiah riba, saham atau uang kertas. Mereka tidak mau diragukan, tidak mau didebat, tidak mau ditolak, tidak mau disangkal. Hal ini adalah kepastian mutlak riba, bahkan oleh kritik kapitalisme (Marx menerima riba sebagaimana Friedman telah lakukan) membuktikan fondasi kudus kapitalisme.

Kapitalisme adalah cara hidup yang dominan hari ini dan Islam adalah satu-satunya jalan keluar. Islam adalah jalannya Mukminun, Islam adalah satu-satunya strategi yang bukan hanya melawan tetapi menawarkan alternatif bagi sistem kapitalis. Kapitalisme secara keseluruhan berdasarkan pada riba, dan ini adalah kejahatan, karena ditakdirkan demikian oleh Allah. Muslim diminta untuk menerima hak asasi manusia, toleransi dan demokrasi, tetapi mereka tidak diminta untuk menerima kapitalisme, namun dengan sendiri menerimanya. Semua perdebatan humanistik adalah penipuan untuk menyembunyikan sifat dasar kriminal kapitalis.

Kapitalisme bukanlah humanitarian, atau toleran atau demokratik. Tetapi karena Anda tidak dapat mengkritik moral dengan perangkat moral itu, maka perangkat itu tidak cukup baik. Perangkat-perangkat itu tidak berguna. Riba telah memperbudak dunia dengan cara merubah sifat dasar uang, membuatnya secara artifisial produktif (bunga) dan secara artifisial bernilai (uang fiat). Tiada guna berkata, kajian ini ada di atas dialektika palsu kiri dan kanan, dan kita menganggap marxist sosialisme sebagai bentuk lain kapitalisme.

Pertarungan yang akan terjadi adalah antara Muslim dengan bank. Informasi sepihak bermakna bahwa kebanyakan orang tidak mengetahui apa itu Islam dan penyelenggaraan negara Islam tidak menyediakan contoh sah untuk ditiru. Tetapi Islam adalah lebih besar daripada selimut yang menutupinya (kufr). Ketika Allah membuka gerbang Islam, orang akan paham dan mereka akan memeluk Islam dalam jumlah yang besar. Islam bukan milik orang Arab, Islam adalah agama dunia yang sejati dan kita akan memerlukan orang baru untuk mengambil tantangan ini bersamaan dengan orang-orang Arab terbaik.

Selama riba dibiarkan, tidak akan ada pemerintahan Muslim yang bangkit. Kekuatan ekonomi yang dimiliki oleh bank melampaui institusi sipil dan politik lainnya. Karenanya setiap usaha untuk menciptakan masyarakat yang layak dan adil mengharuskan penghapusan sistem perbankan dan penggantiannya dengan sistem uang dan pembayaran baru yang tidak terlibat riba. Melawan realitas kapitalis-riba saat ini, hanya ada satu realitas lain yang dapat menyingkirkannya, dan itu adalah Islam.

Untuk memahami politik kita Anda harus memahami aksioma ini: Tidak memiliki agenda ekonomi adalah untuk memiliki agenda ekonomi. Semua jalan agama dan spiritual yang tidak memiliki agenda ekonomi memiliki sebuah agenda ekonomi, untuk mengatur status quo saat ini dan karenanya untuk melestarikan kapitalisme. Semua jalan agama dan spiritual yang tercemar oleh esoterisasi tidak memiliki agenda ekonomi, karena dalam pandangan mereka hal ini tidak penting. Kami memandang bahwa sikap esoterik mereka memberikan dukungan diam-diam kepada kapitalisme, dan karenanya kami tidak terkejut menemukan bahwa kapitalisme telah mendorong pandangan esoterik. Esoterisisme adalah agama batin kapitalisme, seperti halnya kapitalisme adalah praktek cara hidup dari esoterisisme.

Tetapi, Allah memiliki agenda ekonomi untuk kita. Allah berfirman dalam Qur’an (2, 274): “Allah telah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba.” Ini bermakna Allah telah mengharamkan perbankan. Karena itu pilihannya bank yang disingkirkan atau hukum Allah yang disingkirkan. Dan karena Hukum Allah tidak dapat disingkirkan, maka bank yang harus ditendang. Adalah alami jika bank berusaha mempertahankan status mereka, termasuk mencoba untuk meredam atau bahkan membatalkan Hukum Islam.

- Mereka akan mempertahankan diri dengan berkata bahwa agama Allah tidak memerlukan penerapan Hukum Islam, artinya penerapan Hukum Islam bukan esensi agama Allah;
- alternatifnya mereka akan berkata bahwa penerapan Hukum Islam tidak memerlukan Allah, artinya tidak memerlukan ketawakalan kepada Allah dan dapat dirubah atau diambil dengan alasan praktis — inilah orang-orang yang akan mengajukan bank Islam/Syariah. Posisi pertama dipertahankan oleh kelompok esoterik dan posisi kedua oleh kelompok eksoterik. Walaupun kedua kelompok ini saling berlawanan satu sama lain, kenyataannya mereka adalah sama.

Di bawah topik populer hak asasi manusia, toleransi dan persaudaraan umat manusia, doktrin esoterik telah mendominasi semua wacana agama dan politik sementara promosi gencar tata ekonomi dunia baru mengambil alih. Agama telah dipaksa masuk kepada proses homogenisasi dan introspeksi. Proses ini adalah esoterisasi. Dan tidak lebih, kecuali memahami mekanisme yang digunakan dalam proses ini. Proses ini adalah paralel dengan eksternalisasi kapitalisme, yang telah berinvasi tidak hanya kepada keseluruhan wilayah geografis dunia tetapi juga setiap aspek keberadaan manusia. Ide Filsafat Esoterik telah ditempa untuk mencoba menciptakan sesuatu di luar segala sesuatu. Nama ini telah diberikan kepada sejenis sintesis di luar ilmu pengetahuan, agama dan filsafat yang bermakna menyediakan pandangan baru untuk membentuk ulang masa depan peradaban, budaya, politik dan ekonomi, atau untuk bertahan hidup ketika dibentuk ulang. Ide filsafat esoterik ini diberi sejarah, prinsip-prinsip, hukum-hukum dan bahkan nilai moral yang mengklaim membimbing proses pembentukan potensi manusia.

Dinamika esoterisasi menyiratkan adanya pemisahan dari suatu domain dan pergerakan ke satu domain lain. Dua domain ini didefinisikan sebagai eksoterik atau eksterior dan esoterik atau interior. Dua tatanan ini diwakili secara simbolik oleh lingkaran eksterior dan pusat lingkaran. Karenanya proses bergerak secara esoterik menuju pusat, yaitu esoterisasi; atau secara eksoterik menuju lingkaran, yaitu eksoterisasi. Pusat domain esoterisisme dan konsep esoterik atau perkara, dan lingkaran eksterior adalah domain eksoterisme dan konsep atau persoalan-persoalan eksoterik. Untuk ‘menjadi esoteris’ atau untuk ‘menjadi eksoteris’ tergantung definisi yang telah diuraikan di atas. Karenanya para esoteris adalah orang-orang yang memuji perkara esoterik di atas eksoterik, dan para eksoteris adalah orang-orang yang buta kepada esoteris yang menyangkal mereka sambil memuji eksoterik. Mengingat ini adalah proses-proses dinamis, salah satu dari mereka selalu bereaksi untuk mendominasi. sehubungan dengan esoterisisme, eksoterisme adalah ‘reaksi’ nya dan sebaliknya. Apa yang menjadi isu di sini bukanlah arah proses ini, apakah itu esoterik atau eksoterik, tetapi lebih kepada proses itu sendiri.

Perkembangan kapitalisme menuntut penghapusan nilai normatif agama, dan ini adalah proses esoterik, esoterisasi. Tanpa henti dan terus-menerus, perbedaan agama dan implikasi konfliknya telah dihapus karena agama-agama ini telah didefinisi ulang dalam sebuah proses yang dapat digambarkan sebagai ‘bergerak’ menuju pusat yang tidak dibedakan. Ini adalah proses yang telah kita sebut esoterisasi. Saat proses ini dominan, pada waktu apapun masa lalu tampak eksoterik dan masa depan lebih esoterik. Reformasi kristen adalah esoterik sehubungan dengan yang ada sebelumnya, tetapi ini adalah eksoterik sehubungan dengan deisme ; deisme adalah eksoterik sehubungan dengan perenialisme . Dalam proses ini eksoterisme adalah masa lalu sekaligus reaksi bagi masa depan. Reaksi tersebut telah dieksploitasi sebagai konflik guna menutupi perkembangan kapitalisme. Hal ini telah dipengaruhi oleh persepsi sejarah kita. Kita memiliki perang agama tetapi tidak pernah memiliki perang kapitalis. Namun semua konflik ini telah menjadi alat kapitalisme yang semakin berkembang. Cara bagaimana konflik-konflik ini didefinisikan, termasuk alasan konflik dan pemilihan medan pertempurannya, didesain untuk menguntungkan kapitalisme, lebih jauh lagi, konflik-konflik itu sehakikat dengan kapitalisme. Bahkan perang dunia kedua didefinisikan dengan menyedihkan oleh ahli sejarah profesional dalam istilah personalitas, dan tidak ada usaha yang dibuat untuk menjelaskan konsekuensi perang: yaitu lahirnya kapitalisme pembiayaan modern. Untuk menghilangkan jejak kapitalisme, perang harus didefinisikan ulang. Kita akan membahas perkara ini nanti. Yang penting adalah menyadari tuntutan kapitalisme yaitu menyingkirkan semua agama lain atau esoterisasi mereka untuk mengklaim bahwa agama adalah universal, dan tidak dapat dipertanyakan. Kapitalisme adalah satu-satunya eksoterisasi yang dibolehkan. Hanya kapitalisme sendiri yang dapat memaksakan ritualnya, karena dengan bersendiri itu tidak akan ada konflik. Kedamaian kapitalis bermakna dominasi total kapitalisme dan eliminasi dengan merendahkan semua agama lain.

Ketika esoterisasi diterapkan kepada Islam implikasinya adalah terputus dengan masa lalu, sering dihadirkan sebagai reformasi 'jinak'. Inilah yang kita pahami sebagai penyimpangan. Reformasi atau penyimpangan esoterik diterapkan kepada Syariah dan Tasawwuf.

Esoterisasi Syariah berimplikasi pada penggalian prinsip-prinsip yang dipandang sebagai simbol yang dengannya dapt memformulasikan ulang hukum menurut timbangan seorang manusia atau umat manusia. Hukum umat manusia adalah formulasi esoterik Hukum Islam. Umat manusia dipandang sebagai persaudaraan tunggal, ‘persaudaraan umat manusia’. Unsur-unsur yang 'membedakan' dari Syariat Islam secara bertahap dihapus dengan formula seperti ‘Laa iqraaha fi Deen (tidak ada paksaan dalam agama)’ atau ‘persaudaraan umat manusia’. Hal ini tidak dapat diterima oleh kita, karena Hukum Islam tidak dapat direformasi, hanya masyarakat kita yang hendaknya direformasi. Formulasi esoterik mereka mengganti atau mendefinisikan ulang Jihad dan persaudaraan Islam.

Esoterisasi Tasawwuf mengimplikasikan pemisahannya dari Syariah , yaitu dengan mengatakan, pendefinisian ulangnya sebagai ‘Islam esoterik’, sementara Syariah didefinisikan ulang sebagai ‘Islam eksoterik’. Ini adalah absurd bagi Muslim, karena ide Tasawwuf tanpa Syariah adalah tidak berdasar sebagaimana halnya Syariah (Fiqih) tanpa Tasawwuf . Para penganut esoterisisme mengklaim bahwa Tasawwuf mendukung ‘persatuan transedental semua agama’ dalam basis metafisika kepercayaan kepada Tuhan. Persoalan ‘eksterior’ sehubungan dengan perbuatan dan kewajiban atas keyakinan kepada Tuhan (fiqih) dipandang sebagai urusan nomor dua. Domain absolut adalah bersifat metafisik dan domain contingent adalah bersifat ritual.

Simbolisme membolehkan para esoteris untuk bertindak atas nama Islam sementara kenyataannya mereka menyangkalnya. Hal itu membolehkan mereka berkata, “Kami percaya kepada Allah sama sepertimu,” padahal kenyataannya mereka percaya kepada tuhan lain. Tuhan mereka dapat memiliki beberapa nama. Itu adalah simbol. Menurut beberapa perspektif, anda dapat menemukan sebuah gambar yang berbeda. Penting untuk memahami bahwa para esoteris tidak menyangkal kepercayaan kepada Allah dan mereka akan berkata mereka Muslim walaupun mereka juga menegaskan bahwa semua agama dan jalan spiritual beriman pada tuhan yang sama. Beberapa freemason, misalnya, berkata bahwa yang Muslim adalah yang tinggal di negara Muslim dan mereka berkata yang kristen adalah yang tinggal di negara kristen. Ini karena mereka memandang diri sendiri sebagai berada di atas ‘penafsiran kaku’ agama. Freemason menerima semua agama dalam persaudaraannya dan mereka semua menyembah tuhan yang mereka sebut ‘Arsitek Agung Alam Semesta’. Posisi mendua ini adalah lebih menipu ketimbang penyangkalan terang-terangan atas Islam. Untuk alasan ini kita akan menguji secara terperinci sejarah dan keyakinan freemasonry.

Para esoteris juga berkata bahwa mereka mendukung Syariah tetapi pada saat yang sama mereka ingin mereformasinya , atau mengikisnya, atau tidak menginginkannya di sini atau sekarang. Mereka berkata menginginkan keselamatan bagi umat manusia, tetapi jelas bahwa keselamatan itu hanya dapat dicapai oleh mereka sendiri — kelompok yang terpilih. Semua reformasi ciptaan mereka membimbing mereka kepada filosofi hak asasi manusia, toleransi dan persaudaraan umat manusia. ‘Syariah yang telah direformasi’ yang harus memenuhi prinsip-prinsip esoterik bukanlah Syariat Islam. Itu adalah sesuatu yang baru tetapi mereka ingin menggunakan nama Syariah. Karena itu mereka merujuk kepada institusi dan peralatan kafir dan mereka menambahkan nama Syariah. “Kami menginginkan Syariat Islam, kami menginginkan pemerintahan yang diperintah oleh Syariah.” Namun yang mereka inginkan adalah versi baru yang telah direformasi, karenanya mereka bicara tentang hak asasi manusia ala Islam dan toleransi Islami. Ketika mereka tidak dapat lagi merentangkan Syariah, setelah menolak madzhab dan fiqih yang mapan, mereka menyerukan ‘semangat hukum’ dan ‘prinsip-prinsip Islami’. Ini adalah teknik esoterik yang dikenal sebagai simbolisme. Syariah diwakili oleh simbol atau prinsip-prinsip yang membolehkan tingkat lebih lanjut penafsiran introspektif. Akibatnya mereka memperkenalkan penjelasan simbolik tentang arti Jihad dan riba.

Pada akhirnya apa yang ada dibelakang prinsip-prinsip Islam itu dan hak asasi manusia Islami buatan mereka, adalah dorongan yang tidak tanggung-tanggung untuk melestarikan sistem perbankan. Tugas mereka adalah untuk ‘mengislamkan bank, dengan demikian melestarikan kapitalisme dan lebih jauh lagi memikat Muslim untuk menerima kapitalisme. Mereka menyangkal perbankan tetapi mereka mendorong perbankan Islam. Mereka menegaskan kejahatan kapitalisme tetapi mereka siap untuk ‘mengislamkan’ kapitalisme . Menurut mereka, bank bukanlah institusi kapitalis melainkan hanya sekedar jasa. Menurut mereka kapitalisme adalah salah, tetapi kapitalisme Islam dapat diterima. Kapitalisme Islam mereka adalah kapitalisme dengan nilai moral Islam, di mana bank Islam telah menggantikan bank yang tidak Islam. Menurut mereka, riba adalah simbol yang, tanpa memperhatikan aturan Syariah, sekedar bermakna bunga. Hasil dari semua ini adalah praktek riba yang kejam, bengis, dan intoleran, artinya kapitalisme, dilestarikan dengan esoterisasi agama ini. Untuk alasan ini, penting untuk mengenali siapa mereka dan apa yang mereka katakan, supaya dapat mengenali setidaknya wajah yang berbeda dari yang biasanya orang percayai. Ingat, Kufur adalah satu kesatuan sistem.

Ada unsur lain karakteristik esoterisisme: messianisme . Messianisme adalah pembebasan dari kerusakan jaman saat ini beserta tanggungjawabnya. Sang Penyelamat Messiah yang datang untuk menyelesaikan semua masalah saat ini dapat memiliki berbagai rupa mulai dari messiah kristen, sampai kepada imam Mahdi, demokrasi dan negara dunia. Dalam prakteknya, sama saja berkata: “jangan bertindak sekarang, kita menunggu.” Mahdisme, artinya menunggu kedatangan imam Mahdi sebagai tindakan penundaan atau meniadakan kewajiban dalam bentuk apapun untuk melakukan perubahan terhadap keadaan zalim yang terjadi saat ini, adalah bagian dari apa yang kita sebut penyimpangan esoterik. Penggunaan politik doktrin Syiah ‘menunggu turunnya imam Mahdi di akhir zaman’ sepanjang sejarah Muslim telah digunakan untuk membenarkan pemberontakan di bawah satu dari banyak Mahdi atau bahkan lebih buruk menunda restorasi Islam sekarang karena ‘menunggu kedatangan imam Mahdi’.

Sabtu, 11 Juni 2016

TESIS BUKU INI

Para kapitalis juga menginginkan keselamatan, atau setidaknya tidak ingin dibilang kriminal. Masalahnya adalah untuk memberikan keselamatan kepada kapitalis atau membuatnya tidak dibilang kriminal, agama harus dirubah. Yaitu melakukan reformasi supaya agama dapat menerima atau tidak melakukan apapun terhadap kapitalisme. Tidak melakukan apapun terhadap kapitalisme berarti agama dipisahkan dari ekonomi dan politik: Sekuler . Dalam pandangan ini Anda dapat menjadi orang yang sempurna menjalankan ajaran agama sekaligus orang berpaham kapitalis dalam kehidupan sehari-harinya. Agama yang dihasilkan dari perubahan ini kita sebut agama kapitalis, karena setiap hal, setiap hukum, setiap ajaran dapat dirubah kecuali kapitalisme itu sendiri. Mekanisme perubahan ini adalah esoterisasi agama. Esoterisasi agama mengarah kepada sinkretisme , artinya introspeksi agama ke dalam agama itu sendiri dalam bentuk prinsip-prinsip dan kiasan yang terbuka kepada pembaruan penafsiran, sebuah bentuk agama tunggal dalam wujud banyak wajah yang akan membenarkan kapitalisme.

Kami bersikukuh bahwa kapitalisme adalah kejahatan. Kami diwajibkan untuk memberitahu penganut kapitalis puritan, yang berfikir bahwa dia adalah orang yang shalih karena moralitas seksual pribadinya tidak rusak (biasanya bermakna istrinya berkelakuan baik), tapi mengunjungi bank adalah kejahatan yang dosanya empatpuluh kali lebih besar daripada berzina dengan ibu sendiri, tidak dipedulikan. Dan ketika dia hampir berteriak putus asa bahwa dia bukan penjahat, kami dapat memberitahunya, “Lihat ada jalan keluar dari kapitalisme. Anda belum melihatnya dan Anda harus bertapa untuk dapat melihatnya, tetapi jalan itu adalah benar adanya. Waktunya telah tiba untuk meninggalkan agama berhala dan bergabung kepada satu-satunya agama yang menawarkan jalan keluar dari kejahatan kapitalisme, jalan itu adalah agama Allah yang disebut Islam.” “Tetapi saya pikir Islam adalah sesuatu yang berbeda,” dia akan keberatan. “Tidak, agama esoterik itu telah dijual kepada Anda dan dunia sejak keruntuhan Kekhalifahan, agama itu adalah penyimpangan dari Islam,” kami akan menjawab. Tanda bahwa Islam kembali akan menjadi kemenangannya, dalam bentuk restorasi Dar al-Islam di mana Islam secara sempurna akan direstorasi (Tidak ada kapitalisme, atau bank akan hidup di dalamnya) saat itulah Kekhalifahan telah dikembalikan untuk memerintah rakyat Muslim.

Peristiwa ekonomi dan politik selama tigaratus tahun terakhir adalah penciptaan negara modern. Tidak satupun peristiwa yang menyamai keganjilan, pendirian dan gembar-gembornya. Negara tersebut dilahirkan dari perpaduan pemerintah dan perbankan. Pemerintah menyadari bahwa kekuatan besar perbankan dapat menjadi milik mereka. Alih-alih melawan, mereka memutuskan untuk menyerapnya. Pemerintahan menjadi perbankan, dan perubahan riba ini melahirkan negara modern.

Negara modern kapitalis tersebut mengeluarkan atau mengizinkan dicetaknya nota bank atau uang kertas di bawah otoritas negara hukum, menyalahi aturan hukum agama. Bahkan hukum kristen juga melarang riba. Pengeluaran uang kertas menyediakan instrumen pengumpulan pajak yang jauh lebih efisien dari sebelumnya, dan uang kertas juga mendefinisikan ulang hubungan luar negeri, segera setelah negara menemukan bahwa membuang uang busuk mereka ke luar negeri memiliki efek yang sama seperti memajaki orang luar negeri dan lebih murah daripada mengirim pasukan penakluk.

Perenungan mendalam kepada peristiwa riba yang luar biasa ini memaksa kita untuk membuat pengamatan awal berikut ini:

- Dengan memeluk sistem perbankan, pemerintah menjadi entitas kapitalis yang kita sebut negara
- Entitas kapitalis ini adalah kapitalisme, menuntut identitas baru dari masyarakat. Identitas agama menjadi nomor dua dibandingkan identitas negara, atau subjek sebagai langganan pembayar pajak.
- Menghapus identitas agama disebut toleransi dan menjadi persoalan hukum dalam semua konstitusi baru, dan sistem hukum baru dari negara baru.
- Proses perendahan agama menjadi kelaziman yang dapat diterima semua umat manusia adalah yang kita sebut esoterisasi. Proses ini adalah penyesuaian yang didukung oleh kapitalisme.
- Masalah identitas merupakan isu kunci penting. Dalam Islam Deen adalah identitas dominan. Kebangsaan, ras, dan kelas bukanlah isu. Isu Kebangsaan lenyap di bawah kekhalifahan. Isu Ras larut dalam poligami, dan pembedaan kelas menghilang dengan pendirian gilda.
- Pembubaran identitas agama dapat dilakukan dalam dua cara; satu, cara agnostik, 'semua agama adalah salah' atau dua, cara esoterik, 'semua agama adalah benar'.
- Pembubaran identitas agama berarti bahwa agama dipandang sebagai kekolotan. Ketika agama mempertanyakan persoalan pajak pembayaran atau penerimaan mata uang nasional maka agama akan dianggap sebagai suatu kesesatan. Karenanya disebut kekolotan.
- Sedangkan dalam Islam, identitas ekonomi direndahkan untuk disesuaikan dengan Hukum Islam. Orang miskin, budak, orang merdeka, orang kaya, majikan dan cantrik semuanya berbagi dengan posisi setara yang membolehkan hubungan timbal balik dan perubahan.
- Islam adalah pemerintahan tanpa negara dan perdagangan tanpa riba. Kedatangan Islam akan berimplikasi, secara otomatis, hancurnya sistem perbankan dan industri jasanya: negara.

Kami percaya bahwa jika peristiwa ini tidak dipahami dengan benar maka tidak mungkin untuk memformulasikan sebuah alternatif bagi bentuk kekufuran ini. Masalahnya bukanlah kufr yang sulit dibedakan, karena kufur tetap akan kufr. Masalahnya adalah ketidakmampuan untuk membedakan kufr. Kita harus menemukan, setelah kegagalan ratusan tahun, apa yang salah dengan kita. Allah telah menjanjikan kemenangan kepada Muslim namun selama seratus tahun kita telah menjadi korban di dunia ini. Karena kita tidak dapat menyalahkan agama kita, kita harus menyalahkan diri kita sendiri. Kita perlu tahu bahwa apa yang kita lakukan salah. Ini bukanlah pertanyaan mudah untuk ditanyakan, kita jawab masing-masing saja.

Kita dapat melihat sekarang bahwa kapitalisme, supaya dapat berkembang, harus menyelewengkan aturan-aturan agama, dengan kata lain merubah agama demi kepentingan dan keberadaan kapitalis. Penyimpangan kapitalis ini yang kita sebut penyimpangan esoterik, berdasarkan pengejawantahan oleh kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme tidak menyangkal agama, tetapi mengasingkannya ke ‘zona khusus agama’ supaya agama tidak berbuat apa-apa dalam masalah ekonomi. Sejenis aliran kepercayaan (spiritualitas), dikembangkan yang menyarankan bahwa kebangkitan spiritual dipisahkan dari tanggungjawab sosial. Dengan nama Tasawwuf versi esoterik yang dipromosikan gencar dan berbicara dengan konsep freemason yaitu ‘toleransi’ dan ‘persaudaraan umat manusia’, atau hal lain yang telah mereka rubah secara esoterik untuk menggantikan Syariah dan Jihad. Dalam bentuk ekstrimnya mereka tidak merasa perlu untuk mengikuti Syariah untuk menjadi Sufi esoterik, seperti gerakan Inayat Khan. Dalam beberapa bentuk membuat sebuah usaha sadar menciptakan agama lain seperti subud atau gerakan bahai. Tidak satupun dari gerakan penyimpangan esoterik ini yang menganggap ekonomi sebagai masalah spiritual. Ini adalah kejahatan. Mereka menganut jalan spiritual yang palsu.

Kami akan mendemonstrasikan di dalam buku ini, gerakan Islam abad ke-20 yang dilahirkan dari freemason militan yang aktif bergerak dan keseluruhan gerakan itu tercemar oleh pemikiran freemason, yang isinya pemikiran Barat disertai pemelintiran aturan-aturan. Pemikiran ini bukan hanya mempengaruhi ide-ide mereka tetapi juga cara bergeraknya. Kami akan menunjukkan bahwa dari para tokoh freemason yaitu Al-Afghani dan ‘Abduh, ada ‘isnad’ yang tidak terputus, guru ke murid, hingga sampai ke jaman kita. Kami akan menunjukkan bahwa orang-orang ini semuanya saling berhubungan, mengetahui dan saling belajar satu sama lain. Mereka berbicara menggunakan bahasa simbol yang sama, konsep simbol yang sama beserta kodenya yang semuanya mengarah menuju penciptaan ‘Islam baru’ (yang mustahil) yang terdiri dari islamisasi cara hidup berhala yang simbol terbesarnya adalah ‘bank syariah’. Kami akan menunjukkan anggota freemason lain, René Guénon (Abdalwahid Yahya), reformis besar fremasonri di abad terakhir, yang menjadi Muslim yang memulai madzhab baru filsafat perenial, juga membawa ajaran menyimpang ke dalam Islam. Dan kami akan menunjukkan bahwa dua gerakan freemason ini mencapai nihilisme total di akhir abad ke-20, dan bukan hanya menggabungkan perbuatan dan kata tetapi, dalam ambisi pragmatis mereka, menjadi terasimilasi kepada cara hidup pagan yang awalnya mereka kritik.

Tesis kami adalah: Reformasi Islam yang sekarang disebut Kebangkitan Islam, bukanlah seperti yang mereka klaim, kembali kepada Islam Salaf generasi pertama. Ide bahwa ‘Islam yang direformasi’ adalah kembali kepada Islam murni dan bahwa orang yang bertanggungjawab atas reformasi ini adalah pahlawan yang tidak dipertanyakan adalah jauh dari kenyataan. Yang terjadi adalah, reformis Islam dan kebangkitannya mewakili perjuangan politik untuk mengendalikan negara dan institusinya. Mereka tidak bermaksud untuk menghilangkan negara dan bank yaitu kapitalisme, tetapi untuk mengambil alih dan mengislamisasi negara dan bank dengan mencomot atau mereformasi Syariah untuk membenarkan tujuan politik mereka.

Perjuangan politik untuk mengendalikan negara ini melibatkan respon interaktif kepada perubahan keadaan kapitalisme, yang secara bertahap memaksa gerakan ini menjadi lebih pragmatis dalam mengejar hasil politik. Usaha mereka untuk mencapai kendali negara gagal total. Ketika beberapa negara mendeklarasikan diri sebagai negara Islam, dan hukum negara beserta mesin institusi dan bank ‘diislamkan’, maka bukti kegagalan mereka terungkap dengan sendirinya, mereka telah menjual model kehidupan Islam dan secara keseluruhan menjadi terasimilasi ke dalam tatanan kapitalis.

Reformasi Islam belum menyelesaikan masalah kita. Reformasi itu gagal menghasilkan pemimpin tunggal yang dapat menunjukkan kepada kita jalan kemenangan. Alasan kegagalan mereka adalah penyimpangan parah yang membuat mereka berfikir bahwa Islam perlu direformasi atau di-modernisasi. Abad ke-20 adalah abadnya para reformis. Programnya para reformis adalah menghancurkan Kekhalifahan dan kemerosotan umat Muslim. Cetak biru bank Islam bukanlah persoalan netral, bukan pula salah paham, itu adalah alat untuk melanggengkan kapitalisme dan menindih Muamalah Islam supaya tidak pernah bisa bangkit. Reformasi Islam mereka secara Islam adalah kejahatan dan penyimpangan. Kalau kita tidak mengenali orang-orang yang menjadi sumber kejahatan ini dan menendang mereka dari alam pikiran kita, mereka akan menjadi hantu yang menghantui masa depan kita. Kita perlu melakukan pembongkaran kejahatan ini agar dapat bergerak. Karenanya kejahatan Reformasi Islam harus dibongkar terlebih dahulu agar kita dapat mengenali mana yang Hak. Buku ini bertujuan untuk menendang para hantu yang berasal dari masa lalu itu. Hantu lain adalah negara Saudi Arabia. Selama sekian lama, tidak boleh mengungkit kepada dunia bahwa Saudi Arabia dilahirkan sebagai negara pemberontak. Negara itu dilahirkan sebagai hasil langsung serangan kepada Kekhalifahan Muslim menggunakan dukungan militer kafir Inggris. Biasanya pembaca Barat tidak mengetahui bahwa wahabi, sekte yang saat ini memerintah Saudi Arabia, adalah pemberontak dan bandit yang mematikan di Arabia di jaman Kekhalifahan. Wahabi secara jahat melawan Kekhalifahan Ustmani dan pemberontakan mereka juga yang menjadi salah satu kejatuhan Kekhalifahan. Sembari mengambil ‘musuh Islam’ sebagai pendukung dan kawan, mereka mendeklarasikan Jihad kepada umat Muslim. Mereka melakukan pemberontakan kepada otoritas Khalifah, menyangkal kesetiaan dan ketaatan yang diwajibkan kepadanya (yang Allah telah perintahkan dalam Qur’an). Mengambil Saudi sebagai otoritas pemimpin Islam murni adalah seumpama mengambil Stalinisme untuk mewakili jalan sejati Kaisar (Tsar) Rusia. Inggris menawarkan Arabia kepada kepada keluarga Saud karena Inggris melihat dalam keluarga Saud ada sebuah jaminan untuk memastikan perlawanan terus-menerus terhadap restorasi Kekhalifahan. Karena itu jalan kepada Kekhalifahan menghendaki negara Saudi dan ideologinya harus dihilangkan. Fatwa yang secara resmi dikeluarkan oleh rejim Saudi juga harus dibatalkan , di semenanjung Arabia atau tempat lain, dan orang-orang yang dididik di universitas mereka harus diteliti dengan curiga. Semua keputusan Islam yang secara resmi berasal dari mereka harus diperlakukan dengan kecurigaan serta dilabeli ‘made in Saudi Arabia’.

Kami berharap buku ini dapat membersihkan ladang untuk menanam bibit baru, guna membangun komunitas baru, mencapai tujuan baru, menciptakan kepemimpinan baru dan, dengan pertolongan Allah, merestorasi Kekhalifahan, insya’Allah. Pertanyaan kunci yang ada sebelum buku ini dan, kami harap, akan tetap berdiri bahkan setelah buku ini: “Adakah alternatif bagi kapitalisme?” Dalam menjawab pertanyaan ini banyak orang terikat untuk menemukan Islam dalam cara yang tidak tersedia bagi mereka sebelumnya, bagi kami, kapitalisme adalah wajah kufur jaman sekarang.

Dalam proses menulis buku ini saya diwajibkan untuk menguji tulisan-tulisan dari orang-orang yang menyebarkan ide-ide menyimpang ini. Dalam membaca tulisan-tulisan itu saya merasa seperti seorang dokter yang menguji tahi untuk mendiagnosa penyakit dan menghasilkan obat. Saya telah banyak mengutip dari naskah-naskah mereka dalam usaha menghadirkan ide mereka sebanyak mungkin sebagaimana yang dimaksudkan oleh penulisnya. Dengan demikian, kita dapat melihat semua pengarang ini, dan dapat mengenali, mungkin pertama dan kesekian kalinya, mereka semua berbagi ‘penyimpangan primordial’ yang erat berhubungan kepada freemasonry. Usaha tertentu telah dibuat untuk mengidentifikasi ekspresi simbolik mereka dan menemukan maksud sejati mereka dengan mengekspos pola berulang yang sering melibatkan beberapa pengarang. Saya juga telah menyoroti kelalaian mereka yang kadang lebih berarti ketimbang pernyataan mereka.

Penting bagi kita untuk mengklarifikasi bahwa bukan orang-orang ini yang menjadi masalah, dan mereka juga bukan solusi. Sebagaimana saya tunjukkan sebelumnya, masalah sesungguhnya bukan orang-orang ini, tetapi kapitalisme itu sendiri.

Jumat, 10 Juni 2016

Pertanyaan yang Menuntut Sebuah Jawaban

Cerita bahwa kita telah diberitahu tentang Gerakan Islam di abad ke-20 tidak masuk akal. Pertama secara nama. Tidak bisa diterimanya adanya gerakan Islam yang selama seratus tahun terakhir hanya membawa kerusakan dan bencana bagi Muslim. Dalam menghadapi fenomena ini kita berhadapan dengan beberapa pertanyaan dan temuan menarik.

Kenapa nenek moyang gerakan ini adalah freemason? Kenapa kebanyakan orang tidak mengetahui ini? Kenapa para reformis Islam memilih bergabung dengan freemasonry dan apa itu freemasonry? Jika ‘Abduh adalah seorang pemimpin Islam kenapa Evelyn Baring, Lord Cromer, seorang musuh Islam memilihnya sebagai Mufti Agung Mesir? Kenapa Cromer tidak menganggap ‘Abduh sebagai agnostik? Kenapa Jamaat al-Islamiyah dan Ikhwan al-Muslimin memuji ‘Abduh dan Al-Afghani? Kenapa mereka mendukung dan didukung oleh anti Kekhalifahan dan rejim pemberontak Saudi Arabia? Kenapa taktik mereka tetap bersifat freemason dalam semangat dan metodenya, yang dominan demokratis dan humanistik?

Bagaimana bisa Jinnah, seorang ismaili sekuler, masih dihadirkan sebagai tokoh Muslim di Pakistan? Mengapa Inggris memilihnya sebagai penguasa pertama negara Muslim? Bagaimana bisa figur seperti itu masih dihormati di Pakistan dalam beberapa kelompok-kelompok Muslim? Apa itu reformasi Islam? Dapatkah Islam direformasi? Siapa yang menciptakan ide konstitusi dalam Islam? Kenapa Jamaat al-Islamiyah mempertahankan konstitusionalisme di Pakistan? Siapa yang menemukan ide absurd bank Islam, yang merupakan institusi riba? Bank Islam didorong besar-besaran oleh ulama Pakistan, apa yang sudah mereka lakukan dengan hukum Islam sehingga dapat mendukung sebuah ide absurd semacam itu? Siapa yang mengislamkan hak asasi manusia, yang sebenarnya merupakan doktrin anti agama?

Jika Saudi Arabia adalah sumber fundamentalisme, mengapa Inggris mendukung mereka dan mendukung wahabi? Jika wahabisme adalah doktrin yang benar untuk dunia, mengapa pemerintah Saudi Arabia tidak menerapkannya kepada diri sendiri? Jika Saudi Arabia mempertahankan rukun Islam, kenapa Zakat tidak dikumpulkan di Saudi Arabia? Mengapa Saudi Arabia merupakan sebuah negara kapitalis? Pergerakan salafi apakah yang mendukung riba bernama ‘bank Islam’?

René Guénon adalah seorang mason dan mendukung freemasonry sepanjang hidupnya, dia bahkan dianggap oleh banyak freemason sebagai pereformasi terbesar dari golongan freemasonry. Apakah Muslim yang membaca tulisannya paham hal ini? Dia membuat dua, mungkin tiga loge mason yang dia miliki sendiri ketika tinggal di Mesir. Apakah ini bagian dari pengajaran Islam? René Guénon adalah salah satu revivalis hinduisme terbesar menurut majalah Hinduism Today. Apakah hal ini selaras dengan peran sebagai seorang guru Muslim? Salah satu murid Guénon’s, Martin Lings, menulis sebuah buku mengenai Shaykh al-‘Alawi yang dibaca secara luas di dunia Muslim, tetapi kenapa pengikut Tariqat Shaykh al- ‘Alawi menyebut buku ini ‘Kitab al-Iblis’? Kenapa mereka menolak ide perenialisnya? Sebuah majalah esoterik yang pro mason Connaissance des Religions, bertutur tentang bukunya Lings berjudul Muhammad, berkata: “Buku ini jenuh dengan simbolisme.” Simbolisme adalah perangkat yang dengannya para mason melestarikan doktrinnya dan berkomunikasi sesama mereka sambil dapat menyembunyikan semua kerusakan moralnya. Kenapa para mason memuji buku ini? Kenapa para penganut Wahabi membenci kaum Sufi tetapi menghormati Lings dan ‘Sufi esoterik’ lainnya? Kesamaan apakah yang membuat mereka bersatu?

Mengapa para pemimpin Islam modern baru-baru ini aktif bergerak dalam gerakan perbandingan dan dialog antar agama? Apakah ‘perbandingan agama’ dan ‘dialog antar agama’ adalah doktrin Islam? Mengapa doktrin-doktrin ini didukung oleh PBB? Mengapa PBB mendukung penyatuan agama-agama dan jaman baru? Apakah PBB sebuah institusi Islam? Dapatkah sebuah bangsa Muslim menjalankan ajaran piagamnya? Dapatkah seorang Muslim mendukung tujuannya? Apa yang dilakukan oleh semua negara Muslim ini di PBB? Kenapa Rabitah Saudi Arabia mendukung secara finansial Parlemen Agama-agama Dunia?

Apa yang JG Bennett, yang menemukan orang seperti Gurdjieff, Subuh, Idries Shah dan Syekh Nazim, pertimbangkan bahwa semua 'esoteris Naqsyabandi' ini memiliki kesamaan? Syaikh Nadzim berkata bahwa imam Mahdi telah datang di tahun 1980, kemudian sebelum tahun 2000, apa yang akan dia katakan sekarang? Siapa yang berkata ‘persaudaraan umat manusia’, sebuah doktrin freemason adalah bagian dari Tasawwuf ? Mengapa Khurshid Ahmad, Anwar Ibrahim, Shaykh Kuftaro dan Sayyed Hussein Nasr semua terlibat dalam dialog antar iman? Apa yang jesuit katolik John Esposito lakukan di antara mereka?

Kenapa program reformasi Islam gagal? Jika mereka mewakili Islam, mengapa gerakan mereka tidak berhasil selama ratusan tahun ?

Semua politik esoterik jinak yang menerima riba ini ditamatkan dengan kembalinya Dinar Islam, koin emas bangsa Muslim, di kota Granada (Spanyol) pada tahun 1992. Dinar Islam, yang dicetak kembali berdasarkan ketaatan kepada Allah tanpa kompromi, adalah akhir dari sistem perbankan, yang telah Allah haramkan. Ini adalah kekuatan dari kepatuhan.

Kufr adalah kepalsuan yang menutupi kebenaran. Solusi bagi kesengsaraan kita ada dalam diri kita sendiri. Allah berfirman dalam Qur’an tentang kafirun. Dalam keberadaan mereka ada kebaikan bagi kita. Kufr bukanlah sebuah kekuatan, dan kufr ditakdirkan untuk selalu binasa di hadapan Islam. Dominasi kufr tidak tergantung pada kuffar, namun bergantung pada ada tidaknya Islam. Bergantung pada kita yang sudah mengetahui hal ini. Seperti wabah, kufr akan menyebar jika kita tidak bersih. Muslim adalah hebat di segala keadaan termasuk saat ini. Tetapi sebaliknya kuffar, tetap bingung, kacau dan tidak layak untuk mengatur urusan-urusan mereka. Hal ini terjadi saat ini, ketika kuffar telah menjadi lebih lemah dari sebelumnya. Setiap unsur yang mereka tampakkan untuk mempengaruhi kita, dapat berbalik secara instan, dan akan berbalik, melawan mereka. Kelemahan ini akan meningkatkan ketergantungan mereka kepada proses teknologi yang tidak berperasaan. Apa yang lebih lemah dan rapuh dari sarang laba-laba?

Perumpamaan orang yang menjadikan berhala-berhala menjadi pelindung yang diharapkan pertolongannya selain dari Allah, sama seperti laba-laba dengan sarangnya Kalau kita berbicara tentang rumah atau sarang, maka sesuatu yang berfungsi sebagai rumah atau sarang, sekurang-kurangnya ia dapat melindungi penghuninya dari serangan angin, hujan dan panas. Namun sarang laba-laba tidak demikian halnya, bahkan tersenggol sedikit saja sudah hancur.. Bahwasanya rumah yang paling rapuh, adalah sarang laba-laba. Itupun kalau mereka mengerti. (QS: 29:41)

Akhirnya buku ini mendedikasikan diri untuk menyelesaikan semua penyimpangan-penyimpangan ini. Kepatuhan kepada Allah adalah kebebasan dan kembali kepada ‘Amal adalah jalan keluar dari teka-teki esoterik. ‘Amal Ahl al-Madinah, yang diketahui sebagai fondasi Maliki adalah platform pembaharuan sekarang seperti yang telah terjadi di masa lalu. ‘Amal adalah membawa kembali isu besar Deen dan untuk merestorasi Islam di sini dan sekarang. Islam tidak dapat dibatasi kepada aktifitas membangun masjid dan moralitas personal, Islam harus meliputi semua aspek hidup 24 jam sehari. Sistem perbankan yang merupakan institusi riba harus dihancurkan dan Allah telah mendeklarasikan perang melawannya. Cara ‘Amal untuk menghancurkan yang haram adalah menerapkan apa yang halal, yaitu merestorasi perdagangan Islam. Kembalinya ‘Amal, yang diwakili oleh kembalinya Dinar Islam, adalah akhir esoterisisme dan fundamentalisme. ‘Amal adalah satu-satunya platform untuk menyatukan semua bangsa Muslim.

Saya memohon kepada Allah untuk melindungi kita dari penyimpangan kaum esoterik. Saya memohon kepada Allah untuk melindungi kita saat melawan orang-orang (munafiqun) yang berkata bahwa halal adalah tidak mungkin. Saya memohon kepada Allah untuk memurnikan hati kita dari kesombongan (‘ujb) dan bangga (kibr). Saya memohon kepada Allah untuk memberi kita kekuatan untuk ber-taubat kepada-Nya dengan sebenar-benarnya taubat, supaya kita bisa menjadi makmur. Saya memohon kepada Allah supaya kita zuhud terhadap dunia ini. Saya memohon kepada Allah untuk memberi kita taqwa dan ketawakalan kepada-Nya dan tidak yang lain. Saya memohon kepada Allah untuk memberi kita keridaan dengan takdir Allah. Saya memohon kepada Allah untuk memberi kita takut (khawf) dan harap (raja’).

Wahai Allah! Berikanlah kami Islam yang benar yang membawa ketaatan kepada perintah Mu dan larangan Mu; dan iman tulus yang kokoh menghujam ke dalam bumi, terlindungi dari setiap jenis ambiguitas dan bahaya; dan memberi kami Ihsan yang mengizinkan kita untuk masuk kepada hadirnya Realitas yang Tak Terlihat (hadaratil ghuyub) dan dengannya kita dapat memurnikan diri kita dari setiap jenis kelalaian dan kealpaan, dan dari semua kecacatan lain. Amin.

Kamis, 09 Juni 2016

Pengantar

Tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, bahwa kepemilikan atas informasi telah menjadi kekuatan yang sangat meyakinkan. Kepemilikan, penggunaan dan pengendalian informasi telah menjadi tema sentral dari elit pemerintahan. Akan tetapi kelemahan kekuatan berbasis informasi ini dapat dilihat dalam cara memandang kritik. Tidak ada kritik yang membuat takut penguasa kecuali kritik: ‘anti demokrasi’ atau kritik untuk ‘menjadi tidak toleran’ yang mana kedua kritik itu didefinisikan sebagai kejahatan . Akibatnya, bahasa telah menjadi instrumen yang menyediakan kendali. Kata-kata yang tidak terkendali secara tetap dipandang lebih berbahaya bagi kekuasaan ketimbang pasukan bersenjata. Sebaliknya, kata-kata mitos yang melayani kekuasaan telah merubah bahasa menjadi perisai untuk melanggengkan kekuasaan.

Sebagaimana halnya mitos di Jaman Pertengahan mengijinkan masyarakat dalam cara yang sederhana untuk membedakan kebaikan dari kejahatan, serta mendefinisikan ke-tabu-an dan ketakutan yang tidak masuk akal. Dan sekarang hal yang sama dilakukan terhadap bahasa. Kata seperti ‘toleransi’ dan slogan seperti ‘hak asasi manusia’ dan ‘persaudaraan umat manusia’ telah melebihi berat timbangan yang melampaui agama, pemerintah, bangsa, dan budaya. Kata-kata ini digunakan sebagaimana halnya kesatria jaman pertengahan menggunakan senjatanya. Kata-kata itu diarahkan dengan tepat kepada segala sesuatu yang dapat mengancam kekuasaan elit, yang secara hati-hati mengendalikan penggunaan kata-kata itu untuk menjamin kata-kata itu tidak pernah diarahkan menuju diri mereka sendiri. Kekuatan mereka bergantung kepada kata-kata itu. Ini juga bisa berarti bahwa kekuatan mereka bergantung kepada ilusi.

Sebuah peradaban yang tidak dapat membedakan kenyataan dengan ilusi, adalah sebuah peradaban yang berada di ujung akhir hayatnya. Peradaban Barat telah kehilangan kapasitas mengkritik secara mendalam masyarakatnya sendiri. Kata ‘kebebasan’ dan ‘demokrasi’ telah kehilangan kemampuan mengkritik diri sendiri secara keras dan secara rasional telah membantu membenarkan institusionalisasi tidak paralel dan permanen kekerasan negara dan pemajakan. Bahasa yang digunakan untuk melawan penyalahgunaan yang dilakukan oleh negara dan perbankan telah hilang dalam mendukung nilai-nilai ukur baru. Dengan demikian, jenis pajak seperti pajak pertambahan nilai dapat terus-menerus naik tanpa rasa takut sama sekali karena orang terpesona dengan demokrasi yang dia nikmati, tidak seperti orang lain dari ‘dunia ketiga’. Secara ironis ketika kita bicara tanpa akhir tentang individualisme, pandangan sekilas pada beberapa isu besar mengungkap bahwa kita hidup di jaman paham konformisme besar-besaran.

Dalam menguji fenomena esoterik kita mendapati ‘kata-kata bertuah’ berikut ini terutama, ‘toleransi’ dan ‘hak asasi manusia’. Konsep-konsep ini bukanlah kecelakaan sehingga artinya menjadi seperti sekarang ini. Kata-kata itu dipilih dan dimajukan untuk diselaraskan dengan kehidupan modern saat ini. Karena fenomena fundamental yang menegakkan masyarakat saat ini adalah kapitalisme, fungsi pokok dari nilai-nilai yang disebutkan di atas adalah untuk melanggengkan kapitalisme. Tanpa membongkar kejahatan kata-kata ini, kita seperti sedang mencari hantu, karena nilai-nilai dan lembaga-lembaga yang mewakili kata-kata itu berfungsi melanggengkan kapitalisme, dan esoterisasi itu adalah kapitalisme juga, dan bukan kata-kata itu sendiri yang harus diuji melainkan penggunaannya dan asasnya. Kita tidak dapat menyepelekan kenyataan ini, sementara asas-asas ini dihadirkan dengan gencar kepada dunia yang belum pernah dilakukan sebelum ini dalam sejarah, kapitalisme meluncurkan revolusi terakhir dalam pencariannya untuk mendominasi dunia. Evolusi kapitalis dalam bentuk de-regulasi finansialnya sekarang ini — digunakan saat ini di seluruh dunia untuk merangsang pertumbuhan melalui spekulasi kertas-kertas — perang bebuyutannya IMF melawan emas, dan penetrasi sungguh-sungguh lembaga pemerintahan dunia, semua berasosiasi dengan kebangkitan toleransi dan hak asasi manusia. Dua wacana ini dijaga terpisah dan pemisahan wacana toleransi dari hak asasi manusia ini adalah penipuan. Walaupun kata-kata itu secara intelektual terpisah dari wacana resmi, Pada kenyataanya tidak dapat dibantah bahwa asas-asas itu memiliki pertumbuhan paralel yang saling berhubungan. Pertumbuhan etika esoterik dan ekonomi dengan krisis. Kita telah mencapai titik krisis akibat Pemerintahan Dunia yang artinya akhir kejayaan kapitalisme beserta akhir semangat toleransi.

Toleransi dan ekonomi dilahirkan di ranjang yang sama. Locke, Turgot, Bentham, Smith and Mill menciptakan ide toleransi yang kita miliki saat ini. Mereka bukanlah para biarawan, mereka adalah para pemuka dalam bidang ekonomi. Mereka adalah para penemu ilmu ekonomi yang merajalela dan mengatur masyarakat kita. Mereka melihat toleransi sebagai tuntutan esensial bagi perkembangan negara modern, yaitu negara kapitalis. Kita lupa betapa pentingnya toleransi sebagai sebuah instrumen formasi negara. Toleransi digunakan untuk menghapus segala sesuatu yang mencegah warga negara mengenali kejahatan sebuah negara. Jika anda tidak menerima toleransi, anda akan kehilangan 'identitas menyimpang' anda. Dan ini tentu saja mempengaruhi umat Muslim dan apa akibatnya jika Muslim ada di bawah payung toleransi? Edward Freeman memandang, pada tahun 1876 dalam tulisannya History and Conquest of the Saracens:

“Ada orang-orang di jaman kita ini yang mempelajari dengan sungguh-sungguh bahwa pemerintahan berbasis ajaran Muhammad, supaya menjadi benar-benar toleran, harus berhenti menjadi pemerintahan Muhammad ... Selama pemerintahan tetap berbasis ajaran Muhammad, maka selama itu juga akan dikendalikan oleh Jihad berupa sikap tegas menawarkan kepada wilayah-wilayah yang diekspansi, untuk memilih salah satu ‘Ikuti Qur'an (masuk Islam), Bayar Upeti (jizyah) atau Pedang (diperangi sampai tunduk mau mengikuti salah satu; Qur'an atau Bayar Upeti)’.”

Adalah alami bagi Freeman menyimpulkan bahwa untuk menjadi toleran anda harus berhenti menjadi Muslim. Dalam bahasa saat ini kita akan berkata, “menjadi Muslim artinya menjadi toleran.” Ini karena pengikut Freeman sekarang merasa bahwa mereka memiliki kekuatan merubah Islam. Dan ini adalah kekuatan baru ketika kata-kata ini telah mengambil alih kendali masyarakat berbasis informasi kita. Kata-kata itu memiliki kekuatan untuk mengesampingkan segala sesuatu yang menghalangi jalan mereka. Siapapun yang menggunakan kata ini, apakah dia Muslim atau bukan, apakah dia menyangkal toleransi atau tidak, sudah terjerat dalam permainan makna yang ditetapkan sebelumnya, baik itu aturannya maupun akibatnya. Siapapun yang bersifat ‘toleran’ saat ini harus berhenti dari menjadi apapun. Ini adalah nihilisme.

Menjadi toleran bukanlah pilihan. Hans Küng, ahli teologi terkemuka agama Katolik, dalam bukunya Global Responsibility: In Search of a New World Ethic (1990) menetapkan sebagai berikut:

“Setiap bentuk konservatisme gereja harus ditolak... Untuk membuatnya blak-blakan: tidak ada agama regresif atau represif — apakah itu Kristen, Islam, Yahudi atau darimanapun asalnya — memiliki jangka panjang. ...Jika etika berfungsi untuk memperbaiki perbuatan, etika itu harus tidak terpisahkan. Dunia yang tidak terbagi semakin memerlukan sebuah etika yang tidak terpisah. Laki-laki dan perempuan pasca-modern memerlukan nilai umum, tujuan, hal-hal yang ideal, pandangan. Tetapi pertanyaan besar yang masih diperselisihkan adalah: tidakkah semua ini tidak mencontohkan keyakinan agama? ... Apa yang kita butuhkan adalah sebuah tatanan dunia ekumenis.”

Ekonomi juga bukan hal yang dapat dipilih. Salah satu dari ekspresi nihilis dengan salah satu latar belakang ekonomi yang jelas adalah ‘pasar’. Kenneth Arrow, ekonom pemenang hadiah nobel, mengamati bahwa ada tiga cara dasar bagi masyarakat apapun untuk menjatahkan sumber dayanya dan untuk membuat pilihan 'sosial dasar' lainnya. Di negara-negara berkembang paling ekonomis, keputusan sosial kalau tidak “bersifat politis” maka keputusan dibuat melalui “mekanisme pasar”. Namun pada bangsa-bangsa yang lebih terbelakang, Arrow menemukan bahwa pilihan sosial masih sering dibuat melalui “aturan tradisional yang luas cakupannya”, biasanya “aturan agama”. Hanya sebagai bangsa masuk lebih penuh ke dalam dunia modern yang menggantikan prosedur demokrasi dan pasar untuk keyakinan agama seperti itu. Diikuti dengan implikasi bahwa bagi sebuah masyarakat untuk menerima bahwa mengikuti ‘pasar’, hendaknya juga berhenti mengikuti agama.

Nilai-nilai ini telah berjalan bersama uang kertas yang tidak menandakan apapun. Hal itu tidak berarti bahwa nilai-nilai tersebut tidak membangkitkan gairah yang luar biasa. Tetapi nilai-nilai itu adalah simbol yang terputus dari kenyataan kekuasaan. Nilai-nilai itu adalah penghubung dan penjaga masyarakat yang diatur di bawah struktur rumit yang mengkhususkan pada keahlian ekslusif yang rumit yang mempersulit pemahaman universal sesulit-sulitnya. Sanjungan mereka berarti bahwa orang takut berkata bahwa mereka bukan apa apa karena diri mereka terlepas dari realitas kekuasaan. Paul Morand dari Academie Française berbicara dan mendefinisikan uang kertas dalam sebuah cara yang cerdas:

[... uang kertas itu bukanlah sesuatu yang benar-benar memiliki nilai; uang kertas adalah lambang dari lambang, yang akhirnya tidak ada nilainya sama sekali.]

Rabu, 08 Juni 2016

Nilai Global Menuju Penyatuan Dunia

Setelah perang dunia kedua sebuah gelombang peristiwa penyatuan dan pengorganisasian yang tidak dapat diramalkan, dimulai dengan PBB, menyapu dunia.

Masing-masing dari mereka mencoba untuk menanamkan gagasan nilai-nilai global, identitas dan kewarganegaraan sebagai genosida terhadap nilai-nilai nasionalisme yang bertanggung jawab atas perang bencana. Perdamaian adalah menjadi argumen utama untuk membawa 'tatanan dunia / pemerintah yang bisa menghilangkan perang selamanya. Tapi gagasan pemerintahan dunia, dengan pengecualian beberapa organisasi zaman baru seperti Konstitusi Dunia dan Parlemen, aktif sejak tahun 1960-an, tidak mendapatkan penerimaan sampai tahun 1980-an.

Pada tahun 1980-an ledakan organisasi dan peristiwa esoterik memasuki tahapan penghembusan nilai-nilai global baru kepada dunia. Lagu “We are the World” bukan sembarang lagu populer. Lagu itu adalah proklamasi teologi baru. Peristiwa dan organisasi seperti World Healing Day, World Instant of Cooperation, World Peace Day, Annual Global Mind Link, Human Unity Conference, World Conference on Religion and Peace, Provisional World Parliament, tiba-tiba muncul dengan agenda dunia mereka dan program universal untuk ‘mempromosikan kedamaian dunia’. World Constitution and Parliament Association memproklamasikan bahwa tujuan mereka adalah “segera memulai pemerintahan dunia dengan lebih dari 70% wilayah Bumi yang dimasukkan di awal rencana. World Healing Day menuntut dari para pendukungnya “usaha berdedikasi untuk mempraktekkan dan mengekspresikan kedamaian dalam hidup keseharian, dengan cara menyadari bahwa kedamaian harus di mulai dalam hati dan pikiran masing-masing orang”.

Peristiwa bertema lingkungan juga menyita ‘perhatian global’, yang menghasilkan pada tahun 1992 ‘Earth Summit’ di Rio de Janeiro. Bersamaan dengan ide pemerintahan dunia, bertumbuh pula ide agama dunia. Sejak tahun 1980-an ide ini telah memperoleh pengakuan yang cukup. Kapel antar agama sekarang menjadi biasa di beberapa bandara dan universitas. Beberapa di antaranya telah mengadakan perayaannya sendiri. Gerakan ini mengarah kepada pendirian ulang Parliament of World Religions Conference yang diadakan di Chicago, the United Religions Initiative dan United Religions Charter. Peristiwa-peristiwa ini mempopulerkan ungkapan universal seperti ‘kesadaran universal’ dan ‘kesadaran global’, yang secara bertahap menjadi hal yang lazim di antara para intelektual terkenal.

CNN media-mogul Ted Turner secara terbuka berbicara tentang jaman baru dan kebutuhan untuk memperkuat PBB menuju pemerintahan dunia. Harry Belafonte, musisi yang bertanggung jawab untuk konser dan album “We Are the World”, mendeklarasikan bahwa kampanye lagu tersebut adalah bagian dari pendirian pemerintahan dunia yang dijalankan oleh PBB. John Price, penulis Amerika yang terkemuka dan organiser acara World Healing Day, mengklaim bahwa kita sudah ada di dalam “Jaman Baru” penciptaan peradaban dunia baru, yaitu, “The Aquarian Civilisation”.

Jaman Baru adalah sesuai dengan mode mutakhir. Hampir setiap toko buku memiliki bagian yang dikhususkan untuk jaman baru, sebuah ungkapan yang walaupun tidak cukup dipahami oleh setiap orang namun akrab bagi kebanyakan orang. Ekspresi semacam itu biasanya diasosiasikan dengan UFO, okultisme, astrologi, meditasi, dll. Hanya beberapa orang yang tahu siapa itu Alice Ann Bailey (1880-1949), yang paling berjasa dalam mengembangkan infrastruktur dan mempersembahkan strategi gerakan jaman baru (new age) sekarang. Dia mendirikan Lucis Trust pada tahun 1922 yang awalnya disebut perusahaan penerbitan Lucifer yang saat ini membanggakan keanggotaan 6000 orang. Beberapa pemimpin politik dan keuangan paling masyhur di dunia telah bergabung dengan organisasi ini termasuk: Robert McNamara, Donald Regan, Henry Kissinger, David Rockefeller, Paul Volker dan George Schultz. Ini adalah grup yang sama yang menjalankan Council on Foreign Relations, organisasi elit yang bertanggungjawab untuk pendirian PBB.

Robert McNamara, mantan presiden Bank Dunia dan mantan sekertaris pertahanan Amerika adalah juga direktur World Future Society, asosiasi Jaman baru lainnya yang menemukan apa yang mereka sebut ‘studi tentang masa depan’ sebagai disiplin keilmuan yang sekarang diajarkan di lebih dari 200 universitas yang mengklaim telah “memberi penerangan ringkas kepada President Reagan di masa depan, bersamaan dengan wakil President Bush, Donald Regan, dan staf Gedung Putih lainnya.” Asosiasi ini mengklaim partisipasi dari para politisi seperti Al Gore dan Newt Gingrich, dan penulis jaman baru seperti Marilyn Ferguson, penulis The Aquarian Conspiracy. Apa yang dilakukan para tokoh kapitalis terkemuka itu dengan Alice Bailey dan filosofi jaman barunya? Hal apa yang mengikat mereka bersama?

Selasa, 07 Juni 2016

Inisiatif Penyatuan Agama-agama

Inisiatif Penyatuan Agama-agama (IPA) | The United Religions Initiative (URI)

Dari ekonomi hadirlah toleransi, dari toleransi hadirlah hak asasi manusia, dan dari hak asasi manusia hadirlah Inisiatif Penyatuan Agama-agama, IPA, yaitu agama esoterik yang dianjurkan hari ini oleh PBB. IPA didirikan pada tahun 1995 oleh uskup pemerintahan episkopal William Swing dan dimaksudkan untuk menjadi sebuah “komunitas global” yang didedikasikan untuk kerjasama antar kepercayaan. Inisiatif itu telah berubah menjadi ‘agama dunia’ dengan piagamnya sendiri, hukum dan tatanannya. “IPA, pada masanya, bercita-cita untuk memiliki visibilitas dan perlembagaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian klaim mereka. Dalam pembukaan piagam tertulisnya:

“Kami, orang-orang dari agama yang beragam, ajaran kepercayaan (spiritual) dan tradisi adat di seluruh dunia, dengan ini mendirikan Inisiatif Penyatuan Agama-agama untuk mempromosikan yang abadi, kerjasama harian antar kepercayaan, untuk mengakhiri kekerasan dengan motivasi agama dan menciptakan budaya damai, keadilan dan penyembuhan bagi Bumi dan semua makhluk hidup.” Sebagai bagian dari inisiatif ini PBB mengorganisir Millennium World Peace Summit di tahun 2000, yang dihadiri lebih dari 1000 pemimpin agama dan spiritual dari berbagai kelompok pecahan yang berbeda, termasuk hinduisme, sikhisme, shintoisme, judaisme, taoisme, kristen, jainisme, buddhisme, zoroastrianisme, konfusianisme, agama-agama adat dan, tentu saja, beberapa Muslim yang selalu bersedia yang menurut dugaan mewakili Islam. Pertemuan itu dibiayai besar-besaran oleh yayasan-yayasan swasta seperti Ted Turner’s Better World Fund dan the Templeton, Carnegie dan yayasan Rockefeller Brothers, secara ironis mewakili kelompok-kelompok pro-aborsi yang paling kuat, pro-lobi global pengendalian populasi di dunia. Walaupun secara teknis acara ini bukan event resmi PBB, tetapi acara itu diadakan di Majelis Umum dan sekjen PBB Kofi Annan memberikan kata sambutan di pertemuan tingkat tinggi agama itu. Pertemuan itu berlangsung beberapa hari sebelum para pemimpin politik dunia berkumpul untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi PBB Millennium Heads of State Summit tanggal 6 - 8 September 2000, yang dihadirkan sebagai pertemuan terbesar kepala negara dalam sejarah manusia.

Pertemuan tinggi itu secara resmi sebagai penyelidikan supaya para pemimpin agama supaya berhenti berkonflik. Tetapi pertemuan itu sebenarnya adalah untuk mencari cara agar agama dunia dan komunitas spiritual yang ada, dapat bekerja bersama sebagai sekutu antara gerakan antar-kepercayaan dengan PBB pada persoalan-persoalan tertentu seperti perdamaian, kemiskinan dan inisiatif perbaikan lingkungan.

Para pemimpin agama yang hadir termasuk Francis Cardinal Arinze, presiden dewan Vatican untuk dialog antar agama; Konrad Raiser, sekjen World Council of Churches; Rabbi Israel Meir Lau, kepala rabbi Israel; Shaykh Abdullah Salaih Al-Obaid dari Muslim World League dari Saudi Arabia; Shaykh Ahmad Kuftaro, Mufti Besar Republik Arab Syiria; pemimpin agama shinto Kuni Kuniaki dari Jepang; Skarekin II, patriark dari gereja ortodok armenia; pemimpin agama budha Samdech Preah Maha Gosananda dari Kamboja; pemimpin hindu Sri Jayendra Saraswathi Swamigal; dan pemimpin agama asli Amerika Oren Lyons. Coretta Scott King, janda Martin Luther King, dan pemimpin gerakan hak-hak sipil Jessie Jackson juga hadir.

Hal apa yang membuat para anti-Sufi dari golongan wahabi, seperti kepala Rabitah Shaykh Abdullah Salaih Al Obaid dan Sufi esoterik seperti Shaykh Ahmad Kuftaro hadir bersama? Tidak ada, kecuali forum PBB yang membahas ide kafir 'persaudaraan umat manusia'. Tetapi ini bukan satu-satunya forum yang mereka hadiri bersama.

“Bahkan gereja katolik, yang secara terbuka terkait dengan dialog antar iman merasa bahwa hal-hal ini sudah terlalu jauh dan mencemaskan di mana IPA mengarah pada satu gerakan menyeluruh antar-kepercayaan, dengan demikian mengekspresikan keperluan ‘...menghindari resiko sinkretisme dan dari irenisisme menipu yang terburu-buru.’”

Paus bahkan dipaksa untuk membuat beberapa pernyataan mengenai hal-hal berikut:

“Bermacam agama yang ada tidaklah sama. ...Paus menunjukkan ambiguitas tertentu yang telah timbul dalam lingkaran teologi, yang mempertimbangkan dialog antar agama sebagai pembenaran sinkretisme. Bapa Suci mengatakan bahwa “dalam beberapa lingkungan eklesial, sebuah sikap mental telah muncul dalam beberapa tahun kebelakang yang cenderung untuk merelatifkan wahyu Kristus dan mediasi uniknya yang universal berkenaan dengan penyelamatan.” Jika hal ini dijinkan, Gereja juga akan kehilangan alasan untuk dapat bertahan.”

Pada tahun 1998 penulis katolik Lee Penn menulis dalam artikelnya The United Religions Initiative, a Bridge Back to Gnosticism: “Saya menantang para pendukung IPA untuk menunjukkan contoh-contoh dari Injil, dari Dewan Ekumenikal, atau pengajaran-pengajaran Paus, Orang Suci, atau Doktor dan para Bapa dari Gereja, yang memanggil para pemeluk kristen untuk beribadah bersamaan dengan gnostik (new agers), animis dan politheis (agama adat banyak bangsa Asia), atau atheis dan agnostik. (Ibadah bersama tampaknya tidak memiliki preseden sebelum Parliament of the World’s Religions pada tahun 1893, dan merupakan sebuah fenomena berbeda dari dialog antar-kepercayaan atau berbagi kasih sayang — yang konsisten dengan pengajaran Gereja sebagaimana diungkapkan pada Vatican II.) ... Hendaknya dicatat bahwa dokumen-dokumen IPA dan pernyataan-pernyataan para pendukungnya menunjukkan beberapa kejahatan yang dikecam oleh Paus: “sebuah religiusitas yang samar-samar, tidak mampu datang untuk mengatasi dengan pertanyaan kebenaran dan persyaratan konsistensi,” “hilangnya rasa transenden kehidupan manusia,” “kebingungan dalam bidang etika, bahkan tentang nilai-nilai fundamental penghargaan atas kehidupan dan keluarga,” “relativisme etika,” “pandangan teologis yang keliru,” dan “persetujuan ditunjukkan oleh banyak orang Kristen mengenai pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim totaliter.”” Namun demikian sulit untuk menghindari membuat paralel antara pertemuan Paus dengan beberapa anggota agama-agama dunia sebagaimana dia lakukan di Assisi pada tahun 1986 (juga di Rome pada tahun 1999) dan ketika the United Nations Millennium World Peace Summit diselenggarakan pada skala yang lebih besar pada bulan Agustus tahun 2000. Kebetulan, Shaykh Kuftaro berpartisipasi dalam kedua forum.

Kewarganegaraan Global

Pada bulan April 1997 di Vancouver, British Columbia, Kongres Pemuda Kewarganegaraan Global diorganisir oleh, yang salah satunya oleh, Dr. Desmond E. Berghofer, mantan asisten Wakil Menteri Pendidikan Lanjutan di Pemerintah Alberto, Kanada. Dia menyatakan: “...orang sudah lupa bahwa pikiran sadar mereka adalah bagian dari kesadaran universal, yang menyertakan bumi, ibu kita. Dengan melihat mereka terpisah dari bumi, orang menggunakan energi hidup mereka untuk berjalan dalam konflik dengan paksaan hidup universal... ketika kesadaran manusia tiba ke dunia, kesadaran itu datang sebagai energi...”

Dr. Berghofer menulis buku, The Visioneers, di mana dia melukiskan sebuah dunia tanpa batas nasional, agama yang satu, dan kedamaian di bumi melalui hubungan dengan planet, yang telah diperbarui. ‘Visioneering’ adalah sebuah konsep evolusioner yang mengangkat kemanusiaan melalui ‘kewarganegaraan global’. Kosa kata dan konotasi agama dari ide-ide ini adalah luar biasa. Salah satu peserta yang hadir di acara tahun 1997 adalah perwakilan PBB, Dr. Robert Muller, seorang tokoh terkemuka jaman baru yang menyatakan keyakinannya dalam kesadaran kosmis yang terus berkembang global, dengan cara sebagai berikut:

“...bersikap secara benar terhadap Bumi...Anda bukanlah anak Kanada, anda adalah unit kosmos yang hidup karena bumi adalah fenomena kosmik...kita semua adalah unit kosmik. Itulah sebabnya kenapa agama memberitahukan kepada anda, anda adalah istimewa (divine). Kita semua adalah energi istimewa...”